3 Kuliner Gunung Kidul Yang Melegenda, Rekomended Untuk Di Coba

0
204
Tiwul Yu Tum

Kuliner Gunung Kidul- Selain memiliki jajaran pantai berpasir putih nan indah dan gua-gua bawah tanah yang eksotis, Kabupaten Gunung Kidul juga memiliki kekayaan kuliner yang menggoda. Dari sego abang, sate, bakmi godhok, hingga tiwul, semuanya dijamin bisa menggoyang lidah Anda.

Berwisata ke suatu tempat tanpa mencicipi kulinernya yang melegenda ibarat makan sayur namun kurang garam, tidak lengkap dan tidak nikmat. Sebagai salah satu destinasi wisata yang tengah naik daun akan keindahan pantainya dan juga pesona wisata lainnya, Gunung kidul juga memiliki kekayaan kuliner. Setelah lelah beraktivitas di obyek wisata, tak ada salahnya kini saatnya Anda mencicipi aneka kuliner Gunung kidul yang legendaris.

Sate Kambing Pak Turut

Sate Kambing Pak Turut Karangmojo Gunung kidul adalah salah satu kuliner olahan daging kambing yang telah melegenda di kabupaten Gunung kidul. Cita rasanya yang khas dan teta dipertahankan sejak warung ini pertama kali dibuka. Tidak heran jika warung sate kambing ini menjadi pilihan utama untuk bersantap sate kambing disekitar kota Wonosari dan kabupaten Gunung kidul. Sate Kambing Pak Turut Karangmojo Gunung kidul juga memiliki cabang di Jeruk, Kepek, Wonosari, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Sate Kambing Pak Turut Karangmojo Gunung Kidul saat ini sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di wilayah kabupaten Gunung kidul. Salah satu cabang warung Sate Kambing Pak Turut yang letaknya di pusat kota Wonosari berada di Jalan Ksatrian, Jeruk, Wonosari. Untuk bisa menuju warung tersebut dari Bundaran Siyono Gunung kidul ke arah kota Wonosari melewati pertigaan lampu merah Kranon. Kemudian beberapa puluh meter ada persimpangan atau pertigaan tanpa lampu merah dan ambil jalan ke arah kiri. Ikuti saja jalan hingga menemui Warung Sate Kambing Pak Turut di sebelah kiri jalan.

Sate Kambing Pak Turut dirintis oleh seseorang yang bernama Karnoto yang sejak kecil akrab dipanggil dengan nama “Turut”. Sekitar 1979-1980 usaha sate kambing diawali dengan membawa pikulan dagangan keliling sekitar Pasar Karangmojo. Usaha warung sate kambing pun terus berkembang dan diteruskan oleh keturunan Pak Turut. Sampai saat ini telah dibuka 4 (empat) cabang di sekitar Gunung kidul. Posisi Warung Sate Kambing Pak Turut Gunung kidul yang cabang Jeruk ini tidak jauh dari salah satu soto khas kuliner Gunung kidul yaitu Soto Tan proyek (Wetan Proyek). Sangat cocok dijadikan alternatif bersantap ketika warung soto tersebut habis atau tutup ketika menjelang siap hari.

Sate Kambing Pak Turut

Dari luar Warung Sate Kambing Pak Turut Gunung Kidul cabang Jeruk terlihat pikulan yang mempertegas bahwa warung tersebut merupakan warung satekambing. Terlihat seorang pelayan yang tengah sibuk membakar sate sambil mengkipasi bara api dan seorang pelayan lagi sedang memasak hidangan yang berkuah seperti tongseng atau gulai kambing. Bau harum dan aroma daging yang dibakar tercium ketika pengunjung berjalan mendekati bangunan warung sate tersebut dan memasuki ruangan di dalamnya.

Bangunan Warung Sate kambing Pak Turut Gunung kidul tampak sangat sederhana dengan dinding dan tiang penyangga terbuat dari kayu. Ruangan di dalam warung cukup luas dan diperkirakan mampu menampung pengunjung sekitar 50 orang. Tampak berjajar meja kayu dengan kursi dari plastik. Tanpa menggunakan pendingin ruangan, suasana di dalam warung cukup sejuk karena jendela cukup lebar dan atap tidak tertutup eternit. Sajian sate kambing di Warung Sate Kambing Pak Turut Gunung kidul ini dihidangkan diatas piring tanggung dengan 5 (lima) tusuk daging sate. Tusuk sate yang dipakai menggunakan tusuk sate dari bambu. Bumbu kecap yang diletakkan di dasar piring dan sedangkan bubuk merica ditaburkan diatas sate. Potongan ketimun, kubis, bawang merah, dan cabe rawit diletakkan diatas piring terpisah.

Menu Warung Sate Kambing Pak Turut Gunung kidul yang lain seperti gulai kambing dan tongseng kambing tidak kalah enaknya. Saya mencoba mencicipi tongseng kepala kambing yang menjadi salah satu makanan favorit saya. Hidangan tongseng kepala kambing itu dihitung per porsinya atau bukan per kepala kambingnya. Penyajian tongseng kepala kambing dihidangkan diatas piring dengan taburan merica bubuk saja. Cita rasa sate kambing khas Gunung kidul agak sedikit berbeda dibandingkan dengan sate kambing berbumbu kecap di Yogyakarta. Sebelum dibakar, daging sate ini direndam terlebih dahulu pada bumbu yang disebut kopyokan. Bumbu kopyokan adalah bumbu rempah yang dicampur dengan kuah gulai yang dikentalkan. Tidak heran jika bumbu kecap di Warung Sate Kambing Pak Turut terlihat agak encer dan tidak dicampur dengan bumbu atau rempah-rempah yang lain.

Sego Abang Mbah Jirak

Meskipun tidak begitu familiar di telinga para anak muda Jogja, tapi jangan salah kuliner ini justru terkenal di kalangan pecinta kuliner Indonesia terlebih para wisatawan luar Jogja yang berkunjung ke Gunung Kidul. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan, tempat ini tidak pernah terlihat sepi oleh para pelanggan yang sebagian besar memang datang dari luar Jogja. Lesehan Pari Gogo Sego Abang sendiri adalah tempat makan yang menyediakan aneka makanan khas pedesaan. Menu yang paling rekomended disini adalah sego abang (nasi merah) khas gunung kidul yang disajikan bersama beberapa sayur seperti oseng daun papaya, sayur lodeh, sayur Lombok ijo, sayur trancam, dan aneka lauk-pauk pilihan seperti ayam kampung goreng, wader goreng, empal goreng, iso babat goreng, sambel uleg dan masih banyak lainnya.

Sego Abang Mbah JIrak

Saat berwisata ke Gunung kidul, tidak ada salahnya jika meluangkan waktu sebentar untuk mampir ke Lesehan Pari Gogo Sego Abang Mbah Jirak. Menunggu pesanan matang dan siap santap sembari beristirahat setelah seharian puas bermain tentu bisa jadi pilihan alternative bukan? Selain makanan-makanan pedesaan, disini juga menyediakan aneka cemilan dan oleh-oleh khas Gunung Kidul yang mungkin bagi sebagian orang agak sedikit ekstrim seperti walang goreng dan belalang goreng. Makanan yang berbahan dasar serangga ini memang cukup populer di kalangan wisatawan. Rasanya yang gurih dan renyah cocok jadi cemilan. Tapi harus tetap berhati-hati karena mungkin beberapa orang alergi terhadap makanan ini.

Tiwul Yu Tum

Berbicara mengenai kuliner Gunung kidul, tentu saja makanan tradisional satu ini tidak bisa dilupakan, gatot dan tiwul. Kedua kuliner Gunung kidul ini memang lebih dikenal sebagai kuliner tradisional karena memang sangat jarang ditemukan di perkotaan. Bahkan hingga kini, untuk mendapatkan panganan ndeso ini tergolong sulit. Gatot dan tiwul merupakan panganan olahan singkong. Proses pengolahan dari singkong mentah sampai menjadi gatot dan tiwul ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Sebelumnya singkong dikupas dan dicuci hingga bersih lalu dikeringkan dan kemudian ditumbuk. Pada proses ini, namanya sudah berubah menjadi gaplek. Ada dua jenis gaplek, gaplek putih yang ditepungkan dan nantinya diolah menjadi tiwul dan gaplek hitam yang sudah difermentasikan dan selanjutnya diolah menjadi gatot.

Tiwul Yu Tum

Salah satu pelopor usaha gatot tiwul yang masih eksis hingga kini adalah Gatot Tiwul Yu Tum. Konon, Yu Tum sudah menjajakan gatot dan tiwul ini sejak tahun 1985. Awalnya Yu Tum menjajakan dagangannya ini dengan berkeliling Wonosari hingga akhirnya menempati bangunan permanen yang cukup besar. Kini bisnis kuliner Gunung kidul ini dikelola oleh keluarga besar Yu Tum. Dulunya masyarakat Gunung Kidul mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok mereka. Namun sejalan dengan membaiknya ekonomi, mereka beralih ke beras, sehingga singkong hanya menjadi makanan pengganti saja. Meski demikian Yu Tum tetap gigih berkeliling berjualan gatot dan tiwul. Berkat kegigihannya ini, usaha gatot tiwul Yu Tum semakin sukses bahkan sudah memiliki beberapa cabang.

Sebagai salah pelopor kuliner Gunung kidul, gatot tiwul Yu Tum pun menjadi salah satu oleh-oleh wajib saat bertandang ke Gunung kidul. Inovasi produk juga terus dilakukan untuk semakin menarik pelanggan. Yang biasanya tiwul hanya memiliki rasa gula jawa, disini bisa ditemukan tiwul rasa cokelat, rasa nangka, bahkan rasa keju. Gatot tiwul Yu Tum dijual dengan harga yang bervariasi mulai dari 6ribu sampai 16ribu untuk kemasan besek, dan 45ribu rupiah untuk ukuran tumpeng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here