Tongkrongan Susu Murni Kemang

Tempat Tongkrongan Susu Murni Kemang

Nongkrong malem sambil minum susu murni! Wow asik! Pengen santai dan nyaman dengan duduk-duduk di cafe sambil melepas penat setelah habis kerja! Hemmmmm, minum susu murni dengan gaya tongkrongan adalah ide yang pas untuk mengeluarkan rasa jenuh sehabis seharian berkerja. Ya, tulisan kali ini akan berbagi dengan Anda tempat tongkorongan susu murni atau biasa dikenal dengan nama SUMUR. Asik lho tempatnya di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Berikut ini tempat rekomendasi yang mantap dan maknyuss untuk Anda bisa gunakan tongkrongan bersama teman-teman sekantor atau dengan orang-orang dekat Anda. Inilah tempat yang pas untuk Anda:
1. Tenda Tongkrongan Susu Murni Snack Place
Lokasi di depan D’cost Kemang, Jakarta Selatan.
Menurut gue sih ini adalah tempat tongkorngna susu murni yang sangat ramah dikantong. Banyak anak muda tongkrongan disini, biasanya juga mahasiswa yang ngampus disekitar sini suka nyantai dengan menikmati tongkrongan susu murni, (sumur).
Untuk buka tenda tongkorongan sumur biasanya habis magrib.
2. Tong Sumur, Tongkorongan Susu Metropolitan
Untuk Lokasi berada di Jalan Kemang Raya nomor 83, Indonesia.
Dengan konsep food truck, Anda bisa menikmati susu murni dengan tongkrongan pinggir jalan. Asik juga jika Anda bisa menyempatkan waktu menikmati susu murni selain yang didepan D’cost Kemang.
Itulah tulisan asik dan super sederhana jika Anda ingin menikmati susu murni di daerah Kemang yang rekomended untuk Anda. Untuk tongkrongan susu lainnya, kami akan eksplorasi dulu mencari lokasi yang asik untuk di share buat Anda.

Indahnya Ekspedisi Bandung-Semarang Menggunakan Sepeda Motor

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyegarkan pikiran atau refreshing. Ada yang cuma jalan – jalan ke mall atau berwisata hingga ke luar kota. Saya pun punya cara tersendiri untuk berwisata yakni jalan – jalan bersama motor kesayangan ke tempat – tempat baru. Kenapa saya memilih sepeda motor sebagai kendaraan? Karena dengan sepeda motor saya bisa menikmati jalur – jalur yang terkadang terlewat kala Anda berkendara dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Disamping itu, berwisata dengan motor Anda juga bisa menekan biaya perjalanan karena motor terbilang hemat dalam mengkonsumsi bahan bakar. Dan, untuk Kali ini saya akan berbagi kisah saya ketika melakukan Ekspedisi Bandung Semarang dalam rangka liburan panjang beberapa waktu lalu.

Berbekal sebuah sepeda motor sport, saya bersiap melibas jalur Pantura. Saya berangkat tepat pukul 05.00 wib kamis pagi dari jalan Laswi Bandung untuk menghindari macet di daerah Bundaran Cibiru Bandung. Memasuki wilayah Jatinangor, saya baru mengisi bensin full tank motor saya. Sebagai perbandingan, ketika Anda pergi naik bus dari bandung menuju Semarang atau Kudus, harga tiketnya Rp.120.000,00.  Sementara untuk motor, saya cukup menyediakan uang Rp.70.000 – 80.000,00 untuk bensin sekali jalan.  Kala berhenti inilah, saya kembali mengecek kesiapan motor karena dari Jatinangor ini petualangan sesungguhnya akan dimulai.

Sekitar pukul 06.00 wib pagi, saya kembali melanjutkan Ekspedisi Dari Bandung Menuju Semarang yang kurang lebih akan menempuh jarak 400 km ini. Untuk kali ini, saya akan mengambil rute Jalur Pantura, Bandung – Sumedang – Cirebon – Tegal hingga Semarang. Mengapa jalur pantura? Karena jalur ini masih menyimpan berbagai tempat yang menarik dan tentu murah untuk menyegarkan pikiran.

Dari jalur Jatinangor menuju Sumedang, Anda akan mendapati jalur Cadas Pangeran yang terbilang masih hutan dan asri. Ketika sampai di Sumedang, saya menyempatkan membeli tahu sumedang untuk bekal perjalanan dan sarapan. Anda bisa menemui banyak penjual tahu Sumedang di sepanjang jalur masuk hingga keluar Kota Sumedang. Saya berhenti di sebuah toko yang terletak jalur utama tengah kota Sumedang. Saya membeli tahu Sumedang seharga Rp.10.000 dan mendapat 30-35 buah tahu Sumedang yang siap santap.

Setelah menyantap beberapa buah tahu untuk mengganjal perut, perjalanan kembali saya lanjutkan menuju Cirebon via Kadipaten. Di jalur kurang lebih berjarak 100 km ini, dibutuhkan kondisi motor yang prima karena jalur yang dilalui  akan naik – turun. Di jalur ini, Anda masih akan menikmati jalur hutan dan sawah yang asri yang memanjakan mata Anda. Saya cukup mengikuti papan penunjuk jalur di sepanjang jalan  untuk bisa sampai ke kota Cirebon.

Indahnya Perjalanan Bandung Kudus

Memasuki Cirebon, Anda harus lebih berhati – hati karena Anda sudah masuk ke jalur Pantura yang terbilang cukup padat. Satu hal yang menjadi ciri khas jalur Pantura ialah banyaknya pasar tradisional. Saya cukup beruntung dengan mengendarai motor setidaknya bisa melewati kemacetan pasar dengan lebih cepat. Saya pun mengarahkan motor saya masuk kearah kota Cirebon. Di kota ini, saya sempatkan untuk makan sejenak di daerah seputaran Grage Mall. Anda bisa menikmati semangkok Empal Gentong dengan harga Rp10.000 – Rp12.000,00 lengkap dengan es teh manis. Setelah perut terisi, saya sempatkan pula menuju ke keraton Cirebon (Kanoman dan Kesepuhan) untuk sekadar mengambil gambar. Saya cukup membayar tiket sebesar Rp.8000,00 untuk bisa masuk dan menikmati aura sejarah tersendiri di objek wisata ini.

Tak terlalu lama pukul 11.00 wib, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Tegal. Jalur Cirebon – Brebes menjadi jalur yang terbilang rawan di Pantura. Jalur ini terbilang panjang  60 – 70 km dan didominasi trek lurus. Di jalur inilah biasanya pengemudi sering kehilangan konsentrasi. Saya kembali masuk ke jalur pantura yang didominasi oleh kendaraan truk dan besar. Demi keamanan,  untuk kendaraan kecil usahakan selalu berada di jalur kiri. Saya pun melajukan motor hingga 80 km/jam mengingat jalur yang terbilang sepi saat itu. Walaupun Anda bisa melaju sekencang mungkin, Anda tetap harus waspada karena jalan pantura terkadang masih rusak dan terdapat lubang yang cukup berbahaya. Tak ada tempat menarik disepanjang jalur ini hingga masuk kota Brebes.

Dibutuhkan waktu 2 jam dari Cirebon untuk sampai ke Kota Brebes. Memasuki Brebes, Saya  kembali mendapati kemacetan terutama sebelum alun – alun Brebes. Disepanjang jalur masuk Brebes, saya bisa menikmati toko – toko penjual bawang dan telur asin. Sedikit tips, untuk Anda yang ingin membeli oleh – oleh khas Brebes ini, sebaiknya membeli di toko – toko dekat alun – alun Brebes atau wilayah sebelum jembatan besar brebes. Disamping harga yang lebih murah, deretan toko di dekat alun – alun kota menghadirkan oleh – oleh yang lebih berkualitas.

Lanjut dari Brebes, Saya masuk ke kota Tegal yang jaraknya tak terlalu jauh. Untuk kali ini, saya memilih mengikuti petunjuk arah masuk ke pusat kota Tegal tidak mengambil jalur yang biasa dilalui mobil atau kendaraan besar lainnya. Memasuki Pusat Kota Tegal tepatnya jalan Gajah Mada dan jalan Veteran, saya menemukan berbagai toko oleh – oleh khas Tegal. Di jalan ini, saya sempatkan untuk makan siang di warung pinggir jalan atau semacam WARTEG kalau dikota – kota besar.

Saya kembali melaju keluar kota Tegal. Tak jauh dari gapura selamat jalan kota Tegal, saya arahkan motor untuk masuk ke SPBU Muri. Di pom bensin yang memiliki jumlah toilet terbanyak di Indonesia ini menjadi tempat istirahat saya untuk solat. Tempatnya yang luas, cukup nyaman dengan berbagai fasilitas termasuk kantin hingga tempat menginap. Setelah menyegarkan badan, saya sempatkan mengecek kembali kondisi motor mengingat jalur pantura masih panjang.

Pukul 14.00 wib lebih, saya melanjutkan ekspedisi wisata jalanan Dari Bandung Menuju Kota Semarang. Dari Tegal, saya melanjutkan ke Pemalang. Dijalur ini, Anda bisa menikmati pemandangan langsung laut jawa karena memang terletak di pinggir pantai. Saya Sempatkan berhenti sejenak untuk mengabadikan gambar. Jika Anda memiliki waktu luang, ada pantai Widuri yang bisa Anda kunjungi. Namun, karena saya mengejar waktu agar tak terlalu kemalaman, saya pun kembali melanjutkan perjalanan. Sekali lagi, saya memilih masuk pusat kota Pemalang dan tidak melewati jalur lingkar yang biasa digunakan kendaraan besar. Masuk kota Pemalang, Anda akan mendapati jalur yang padat namun cukup nyaman untuk kendaraan motor. Dipinggir jalan, Anda akan mendapti beberapa penjual Tahu Aci pemalang.

Pukul 15.00 wib lebih, saya tiba di Pekalongan. Masuk Pekalongan, ada Batik Trade Center yang merupakan pusat batik pekalongan terbesar. Saya kembali masuk ke arah pusat kota pekalongan untuk menghindari bertemu kendaraan besar. Lepas dari kota pekalongan ada kota Batang yang tak jauh berbeda dengan kota Pekalongan. Dari Batang inilah, saya akan masuk ke jalur legendaris Pantura, Alas Roban. Jalur ini menjadi jalur favorit saya karena penuh dengan tikungan dan masih ada beberapa wilayah hutan yang cukup asri. Namun, dibutuhkan kewaspadaan extra karena jalur ini juga cukup padat. Ditengah jalur Alas Roban, tepatnya di daerah Tulis, Anda akan menemukan Hutan jati yang cukup asri dan cocok untuk tempat beristirahat. Sayangnya, area ini kurang mendapat perhatian pemerintah dan hanya disesaki oleh beberapa warung pinggir jalan.

Melewati Alas Roban, menjelang sore saya tiba di kota Kendal.  Di kota kecil ini, saya kembali melajukan motor untuk tiba di semarang. Masuk kota Semarang, tepatnya di daerah Mangkang, saya bertemu kemacetan mengingat jam pulang kerja. Sampai di Bundaran Kali Banteng, saya pacu motor masuk ke pusat kota tepatnya ke arah Tugu Muda. Pukul 17.30 wib lebih saya tiba tepat di gedung lawang sewu, Semarang. Setelah puas menikmati sore di Tugu Muda, saya beranjak ke daerah gunung pati, untuk beristirahat di rumah saudara. Meski cukup melelahkan, Ekspedisi Dari Bandung Menuju Kota Semarang cukup berlangsung aman dan lancar. Sebuah pengalaman ekspedisi berwisata murah naik motor Bandung Semarang ala jalanan yang ingin mengulangnya kembali karena nuansa keindahan dari Bandung hingga Semarang.

 By Aris “AW Bocah Kudus”