Ingin Berwisata Malam Di Banyuwangi? Jangan Lupa Ke 3 Tempat Ini, Di Jamin Gak Rugi Deh

0
90
banyuwangi
Pandopo Banyuwangi

Kota yang menjuluki dirinya sendiri dengan julukan Sunrise of Java ini memang layak untuk mendapat julukan tersebut. Sebuah kota yang terletak di ujung timur dari Pulau Jawa ini merupakan sebuah kota yang sarat akan tempat-tempat wisata. Banyak lokasi wisata yang sedang dikembangkan di daerah ini.Geliat kemajuan pariwisata di kota ini juga mulai menunjukan eksistensinya. Banyak perbaikan dalam banyak hal yang bisa memudahkan kita para pelancong untuk berwisata di kota ini. Banyak spot wisata alam yang tak akan membuat kita kecewa, bahkan akan membuat kita semakin rindu untuk kembali dan kembali ke kota ini.Kabupaten Banyuwangi sendiri tidak bisa terlepas dari sejarah Kerajaan Blambangan pada masa tersebut. Nama Banyuwangi sendiri merupakan sebutan yang berasal dari suku Osing sendiri. Terlepas dari legenda-legenda yang tersebar mengenai asal muasal Banyuwangi.Secara kependudukan di kota ini banyak di dominasi oleh suku Osing, namun ada juga dari suku Jawa, Bali, Madura dan Bugis. Suku Osing sendiri bisa dibilang merupkan sub suku jawa, meskipun mereka memiliki bahasa khas sendiri yaitu bahasa osing. Kota ini memiliki banyak sekali julukan seperti Sunrise of Java, Bumi Blambangan, Kota Gandrung, Kota Banteng, dan Kota Festival.Banyaknya objek wisata yang berada di kota ini juga di pengaruhi oleh posisi geografis dari kota ini sendiri. Kabupaten yang berlokasi dan bahkan berbatasan dengan Samudra Hindia serta Selat Bali ini menyebabkan banyak objek wisata yang berupa pantai dengan ombak-ombaknya yang mengagumkan, namun juga ada objek wisata lain selain pantai-pantai tersebut.

Meskipun masih terletak di Pulau Jawa, mungkin banyak dari Anda yang belum pernah menginjakkan kaki di Banyuwangi.Kota di ujung timur Provinsi Jawa Timur ini merupakan ‘jembatan’ penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Bali. Dan karena kedekatan lokasi dengan Pulau Dewata, jangan heran kalau beberapa tradisi dan kesenian di Banyuwangi juga memiliki sedikit kemiripan dengan di Bali.Tak hanya tradisinya, keindahan alam Banyuwangi pun layak disandingkan dengan Bali. Bahkan, awal tahun 2016 lalu Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) menganugerahi Banyuwangi penghargaan UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism.Setidaknya ada tiga buah destinasi wisata di Banyuwangi yang namanya sudah mendunia. Makanya, sayang sekali kalau Anda yang orang Indonesia saja belum pernah berkunjung ke tempat yang dijuluki The Sunrise of Java ini.Dari pantai-pantai berpasir putih nan indah, pegunungan dengan kawah-kawah memukau, taman-taman nasional ala di Afrika, air terjun, sampai aneka tradisi luhur nenek moyang menjadi daya tarik yang membuat Banyuwangi pantas disejajarkan dengan “tetangganya”.Ingin ke sana untuk pertama kalinya? Tenang, kami akan memberikan sedikit panduan agar Anda bisa mendapat pengalaman liburan dengan maksimal.

Jawatan Benculuk

Pada tahun 1952, tempat  ini sebetulnya bukan dibangun untuk tempat wisata, melainkan sebagai area resapan air dan penimbun kayu jati yang dikelola oleh Perhutani Banyuwangi.Namun keberadaan pohon-pohon trembesi yang rindang dan menjulang tinggi menciptakan sebuah pemandangan nan eksotis sekaligus misterius, sehingga banyak orang yang datang ke sini untuk menikmati pesonanya.

banyuwangi
Jawatan Benculuk

Kalau Anda hobi hunting foto, maka saat yang paling tepat ialah di sore hari ketika sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah pepohonan sehingga tampak begitu magis, layaknya pemandangan hutan yang ada di film Lord of the Rings.Tak heran jika di sore hari, kawasan ini kerap dikunjungi warga untuk bersantai menikmati udara segar, bersepeda, berolahraga, atau bahkan melakukan foto pre-wedding.Selain menyuguhkan keindahan alam, kawasan wisata Jawatan juga menawarkan beberapa aktivitas lain seperti memancing dan arung jeram, tentu saja dengan biaya tambahan.

Pendopo Banyuwangi

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengadakan ajang Ijen Green Run pada 23 Juli mendatang. Lewat ajang ini masyarakat diajak untuk merasakan pengalaman berlari dengan rute alam bebas di kaki Gunung Ijen.Para peserta Ijen Green Run akan melewati lembah, lereng curam, tanjakan, dan area persawahan. Dibeberapa titik pelari bisa menikmati suasana pedesaan dan perkebunan yang indah.Tak hanya menawarkan keindahan alam, Banyuwangi juga punya tempat-tempat dengan keindahan arsitektur modern. Sebut saja Pendopo Shaba Swagata Blambangan. Lokasi nya tidak jauh dari Bandara Blimbingsari. Kira-kira 30 menit dengan menggunakan mobil.Kompleks pendopo yang dibangun sejak tahun 1771 tersebut adalah rumah dinas Bupati Banyuwangi. Biasanya digunakan untuk menerima tamu kedinasan. Di bagian depan pendopo, terdapat aula terbuka yang bisa menampung ratusan orang dan sering dijadikan tempat  acara-acara resmi Pemda Banyuwangi.

banyuwangi
Pandopo Banyuwangi

Dan beruntungnya pendopo ini terbuka untuk para wisatawan.Untuk bisa menikmati kesan romantis yang dipancarkan oleh lampion-lampion mahakarya arstitek papan atas Adi Purnomo, Andra Matin, Yori Antar, Budi Pradono, serta Ahmad Djuhara kamu dianjurkan untuk datang di malam hari.Untuk menunjang kesan romantis dari lampion-lampion ini, penjaga pendopo dengan senang hati akan menceritakan kisah cinta legenda Banyuwangi yang terkenal.Di halaman belakang terdapat sumur tua, konon, sumur tua itu adalah tempat Sri Tanjung ditenggelamkan oleh Sidopekso. Alasan Sri Tanjung ditenggelamkan oleh sang suami karena Sidopekso percaya Sri Tanjung bermain api ketika Sidopekso tengah mengembankan tugasnya.Sidopekso tidak menerima penjelasan apapun dari Sri Tanjung, hingga Sri Tanjung memutuskan untuk menenggelamkan dirinya ke sumur itu. Sang istri mengatakan, jika ia meninggal dengan wangi harum maka dia tidak berselingkuh, dan ternyata wangi harum menyerbak.Menurut cerita dari Firman si penjaga Pendopo, air dari sumur dapat mengeluarkan wangi harum, namun kadang kala dapat berbau anyir. Masyarakat percaya bahwa air tersebut dapat dijadikan obat dan untuk awet muda. Selain itu, bagi mereka yang masih lajang, air tersebut dapat mempercepat untuk dapat jodoh.

Firman juga bercerita wangi harum air sumur itu akan tercium setiap malam Jumat Legi, namun harus berhati-hati ada hal-hal mistik yang terjadi setiap Jumat Legi tiba. “Sering dengar yang menangis di pojok sana,” tutur Firman sambil menunjuk pojokan sumur tua itu. Entah benar atau hanya khayalan Firman, tapi itulah yang dipercaya warga sekitar

Kebun Duren Banyuwangi

Berwisata alam di siang hari sudah biasa. Yang beda dan luar biasa jika wisata dilakukan di malam hari dengan suasana yang ‘kampungan’ dijamin asyik.Beberapa kawan rasakan saat mengunjungi Kampung Duren di Dusun Sembawur, Desa/Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, akhir pekan lalu. Semua bermula dari salah jalan. Berangkat dari kawasan Tumpang Pitu di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, rombongan berniat untuk menikmati durian.”Kalau ke Banyuwangi tak makan durian, rugi rasanya. Di sini ada Kampung Duren di Songgon,” kata seorang kawan, Ali Gonzales.Sore sekitar pukul 16.30 WIB, rombongan berangkat. Semuanya ada empat minibus, dan rombongan kami paling belakang. Sopir minibus memberitahu bahwa paling lama 1,5 jam sudah sampai di Songgon. Tapi rupanya mobil paling depan salah jalan. Bukannya mengambil jalan lebih dekat, justru jalan memutar yang dipilih.Hampir dua jam berputar-putar di jalanan desa dengan rumah yang jarang-jarang, akhirnya sampai juga di Desa Songgon sekitar pukul 19.30 WIB. Satu dua warung tampak masih buka menjajakan penganan dan durian.Melewati gapura bambu bertulisan Kampung Duren, rombongan berjalan kaki menyusuri jalan tak beraspal. Jangan tanya lampu penerangan, kanan-kiri yang tampak bayang-bayang pepohonan, membias dari serpihan lampu rumah-rumah di kejauhan. Bayangan tentang kebun rimbun penuh pohon dan durian bergelantungan sirna sudah.”Ada kuburan,” teriak seorang kawan. Banyak di antara kami berpegangan ketakutan.Dibantu cahaya senter telepon genggam, rombongan terus berjalan melewati jembatan, sawah dan ladang. Sesekali ada warga kampung bersepeda motor lewat dan menyapa. Jalan setapak dilalui dan di bawah pencahayaan remang-remang terlihat gapura kayu selebar 1 meter. Rombongan pun masuk.

banyuwangi
Kebun Duren Banyuwangi

Menyusuri jalan setapak, rombongan membelah bayang-bayang hitam pepohonan, melintasi jembatan kecil yang di bawahnya terdengar gemericik air mengalir. “Itu tempatnya, Kebun Durian Pak Likin,” kata Ali menunjuk titik cahaya temaram di sela-sela ranting-ranting dan dedaunan.Lega. Rombongan akhirnya sampai setelah hampir 30 menit menelusuri pekatnya malam. Lincak atau bangku panjang dari bambu dengan meja kayu bersandar di sebuah pohon kecil menyambut rombongan. Tiga gazebo berdiri berpencar-pencar.Wisata malam banyuwangi yang enak adalah di gazebo paling besar, sebuah kalimat tertulis di dinding kayu: Likin Durian GardenAda juga sungai kecil atau kalen mengular dari utara ke selatan. Di ujung selatan, toilet dari anyaman bambu berdiri di atas sungai. Di situ rombongan dipersilakan si pemilik kebun jika ingin buang air kecil atau besar. Ndeso bangetlah.Sungai itu mengalirkan air jernih dari sebuah kolam seluas kira-kira tiga kali lapangan tenis meja di sisi utara. Pemilik kebun, Solikin mengatakan bahwa kolam itu bisa dibuat mandi atau berenang, laiknya kolam renang di tempat wisata lain. Airnya jernih sekali khas pegunungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here