Inilah Wisata Kuliner Malam Kampung Keling Medan Yang Terpopuler

0
72
medan
Kota Tua

Kuliner malam di Jalan Pagaruyung Kampung Keling sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang ramai dikunjungi orang. Para pelancong dari luar Kota Medan yang baru pertama kali ke Kota Medan umumnya bertanya, kenapa dan mengapa dinamakan Kampung Keling, orang India di Medan tinggal di mana? Apa nama masakan khas India? Dan semua tentang Bollywood (negeri impian dengan ragam budaya, agama, dan bahasa).Kalau sudah sampai di Pagaruyung, barulah kita tau bahwa menu makanannya tidak melulu masakan India. Begitu pula penjualnya tidak semuanya orang India. Menu yang tersedia antara lain: Sate Padang, nasi goreng kampung dan spesial, nasi briani India, mie Aceh, roti cane, Chinesse food, kerang rebus, mie sop, nasi gurih lontong malam, martabak telur bebek, dan teramat banyak lagi yang bisa disebutkan.Jadi, semakin banyak tawaran pilihan makanan untuk bersantap semakin bingung harus pilih yang mana. Rasa-rasanya semuanya ingin dicicipi satu persatu. Lidah dan nafsu kalau dituruti mau saja. Biarlah dibilang orang rakus dan congok yang penting puas bisa mencicipi kuliner khas Kota Medan Pagaruyung punya.Tidak perlu repot-repot jalan dari ujung ke ujung untuk memilih menu. Duduk di bangku mana saja bisa memilih menu apa saja. Tetapi, kalau mau tengok-tengok pilihan makanan-minuman boleh-boleh saja. Jalan kaki sebentar saja, dari ujung ke ujung semuanya menjual aneka makanan dan minuman yang bisa menggoyang lidah.Kesan “enak” ini diperkuat lagi dengan orang-orang yang pernah datang ke Kampung Keling dan menuliskan pengalaman mereka di media sosial dan kebetulan kita membacanya.Berhubung banyak sekali menu makanan yang ingin dicicipi. Kalau baru pertama ke Pagaruyung Kampung Keling. Kita tidak akan dapat membedakan masakan martabak telur khas Aceh buatan orang Aceh dengan martabak telur khas India buatan orang India.Walaupun keduanya sama-sama menggunakan bahan telur ayam atau telur bebek. Kalau orang Medan yang tukang makan mungkin sudah paham, mana martabak telur buatan orang  India, mana martabak telur buatan orang Aceh.Di Pagaruyung, kalau malam-malam biasa, bukan malam Sabtu atau Malam Minggu masih mudah mendapatkan tempat duduk. Kalau malam Minggu ramai sekali orang. Sebagian besar yang makan di Pagaruyung adalah pelancong.Orang Medan sendiri mungkin tidak sering ke Kampung Keling dan menganggap harga makanan di Pagaruyung sedikit lebih mahal daripada tempat lain yang menyajikan menu serupa.

medan
Kampung Keling

Setelah mencicipi makanan di Pagaruyung seperti roti cane, sate padang, dan minuman jus selasih dan martabe, bolehlah dapat ponten 8. Satu-satunya yang bikin kurang nyaman kalau makan di Pagaruyung adalah lalu-lintas kendaraan seperti mobil dan kereta (sepeda motor) mondar-mandir tepat di tepi bangku dan meja pengunjung.Rasanya kurang pas saja. Sebab, polusi asap knalpot bercampur dengan makanan dan minuman. Tetapi, apa daya perut sudah lapar dan terima saja kondisi seperti itu.Kalau makan di Pagaruyung jangan kaget, baru juga mau menyuap makanan ke mulut datang pengamen jalanan dengan tembang-tembang lawas. Suap makanan lagi datang peminta-minta. Mengunyah sedikit sembari menikmati enak nikmatnya masakan ala Pagaruyung datang lagi pedagang asongan (direct retailer seller).Sedang asyik menyeruput jus datang lagi “karyawan” Pagaruyung yang menawarkan menu tambahan. Padahal menu di meja belum lagi tumpas disantap semuanya. Semuanya menawarkan keramahan dan jika kita kurang berkenan dengan semua itu, tolaklah secara halus.Sewaktu penulis ke Pagaruyung Kampung Keling.

 

Kota Tua Kampung Keling Medan

Kampung Keling merupakan nama lain dari sebuah nama Kampung Madras di Medan.  Kampung ini sebagai tempat tinggal bagi warga keturunan India, dimana warga keturunan India juga ikut mewarnai sejarah perjalanan Kota Medan.Keragaman penduduk Kota Medan yang berasal dari etnis Melayu, Cina, Arab, Batak, Tamil, Jawa dan lain sebagainya melebur menjadi satu dalam dinamika pertumbuhan sebuah kota besar di Pulau Sumatera. Mereka tinggal bersama hidup secra berdampingan, berinteraksi sosial dan budaya dari masa ke masa. Itulah sekila tentang kehidupan masyarkat lokal di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia.Berwisata di Kota Medan, kita dapat mengunjungi Kampung Madras yang merupakan landmark yang cukup dikenal dengan sebuatan Kampung Keling. Disebut dengan panggilan Keling, karena mengikuti panggilan populer bagi etnis keturunan India yang umumnya berkulit keling atau gelap.

Sejarah Kampung Keling Medan

Kampung Madras (dahulu disebut Kampung Keling) adalah nama bagi sebuah kawasan seluas sekitar 10 hektare di Kota Medan, Indonesia yang pernah mempunyai komunitas India yang besar. Kawasan ini terletak di sekitar kecamatan Medan Polonia dan Medan Petisah. Di kawasan ini terdapat kuil Hindu yang tertua di Medan, Kuil Sri Mariamman dan kelenteng terbesar di Medan, Vihara Gunung Timur. Juga Masjid Jami dan Masjid Ghaudiyah yang dibangun oleh Muslim India. Selain itu, di Kampung Keling juga terdapat Sekolah Khalsa (sekolah Sikh; sekarang Khalsa English School), yang dulu pernah terkenal karena merupakan satu-satunya sekolah dengan pelajaran dalam bahasa Inggris di Medan.Kawasan tersebut awalnya dipanggil “Patisah”, namun kemudian terjadi perubahan nama menjadi “Kampung Madras” guna mencerminkan tanah asal para warga keturunan India yang berdiam di sana. Nama “Kampung Madras” ternyata tidak populer dan sebaliknya istilah “Kampung Keling” digunakan.Meskipun hingga tahun 1950-an kawasan ini masih dihuni oleh warga keturunan India dalam jumlah yang besar, sejak saat itu jumlah tersebut telah berkurang karena keadaan ekonomi yang sulit sehingga membuat mereka harus pindah ke kawasan lain. Kampung Keling kini bahkan lebih banyak dihuni oleh warga keturunan Tionghoa daripada India.

Menurut catatan sejarah, yang saya peroleh, konon kaum etnis India datang ke Medan pada awal abda ke-19. Kebanyakan mereka berasal dari etnis Tamil dan bekerja sebagai buruh di perkebunan tembakau Deli. Pada saat itu hasil tembakau Deli sangat termansyur di dunia. Dan orang dari etnis Tamil cukup dikenal sebagai pekerja keras dan disukai para pemilik perkebunan, mereka semakin banyak berdatangan untuk bekerja. Buka hanya sektor perkebunan yang membutuhkan tenaga pekerja mereka, namun sektor pekerjaan lainpun sangat membutuhkan tenaga mereka untuk bekerja, seperti sebagai pekerja bangunan, pembuatan jalan raya, penjaga malam dan sebagainya.

Dari informsi yang saya dapatkan, selain  dari etnis Tamil, juga banyak berdatangan dari etnis lain seperti etnis Punjab dan Cheyttar. Mereka kebanyakan berprofesi sebagai pedagang dan pekerja di luar perkebunan. Selain itu, terdapat etnis Sigh yang bekerja di bank atau sebagai peternak sapi perah.Dan ketika etnis penduduk India semakin banyak dan interaksi antar mereka semakin intens, maka lambat laun bermunculan perkampungan komunitas-komunitas India di wilayah Kesultanan Deli tersebut. Salah satunya yang cukup di kenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara adalah Kampung Keling.Kampung Keling yang dihuni oleh komunitas keturunan India yang lebih banyak dominan dari etnis Tamil, di mana mereka merupakan generasi keturan ketiga dan keempat yang kini masih ada.

Kampung Keling Sebagai Kampung Budaya

Kampung Keling banyak menawarkan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda yang masih kokoh berdiri. Selain itu, kita dapat menemukan banyak kuil yang masih berdiri sebagai tempat peribadatan, seperti; Kuil Shri Mariamman yang dibangun pada tahun 1884, kuil ini banyak dihiasi puluhan patung dewa-dewa india dan menjadi kuil terbesar dan paling megah di Kampung Keling. Kuil ini menjadi kuil induk bagi sejumlah kuil lain di perkampungan etnis Tamil lain di Medan. Selain menjadi tempat peribadatan, Kuil Shri Mariamman juga menjadi pusat kegiatan komunitas budaya dan religi yang dinamakan Perhimpunan Kuil Shri Mariamman.Mayoritas warga Tamil di Kampung Keling beragama Hindu. Namun, ada juga mereka yang memeluk agama Islam yang mebentuk komunitas Muslim Tamil. Hal ini dapat kita lihat dengan adanaya sebuah bangunan Masjid Ghaudiyah, tanah pekuburan Muslim, dan tanah wakf seluas 1.000 meter2 yang asal muasalnya dari tanah hibah Sultan Deli. Dari informasi yang saya dapatkan, sebagain tanah wakaf tersebut kini menjadi bangunan ruko yang disewakan, dan hasilnya tetap digunakan untuk biaya masjid, anak yatim piatu, dan santunan bagi warga Tamil Muslim yang membutuhkan.

Keberadaan dua komunitas keagamaan yang berasal dari keturunan etnis yang sama di Kampung Keling ini menunjukkan bahwa sikap toleransi di kawasan tempat wisata budaya dan religi ini telah lama hadir dalam kehidupan mereka.Kampung Keling Medan menawarkan nuansa budaya yang khas di tengah keragaman etnis dan budaya di kota Medan.Sumbangan Kampung Keling juga bukan hanya pada kekayaan, kenangan dan memosri nostalgia budaya India, namun juga pada kenyataannya tempat wisata ini memberikan kita sebuah pelajaran tentang kemajemukan sebagai bangsa Indonesia dan warga masayrakat dunia mengenai proses perjalana panjang untuk menjadi sebuah negara Republik Indonesia yang kaya akan ragam warna-warni budaya dan tradisi.Kampung Keling merupakan detinasi wisata yang indah bagi penikmat wisata kota tua dengan konsep budaya dan sejarah. Bila para sahabat dan pembaca setia Direktori Wisata akan mengunjungi kawasan wisata Kampung Keling dapat langsung  meuju ke daerah seputaran Jalan Zainul Arifin, Kecamatan Madras, di puast Kota Medan, Sumatera, Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here