Wisata Kuliner Lamongan Yang Bikin Semua Orang Ter Gila-Gila

0
123
Jumbrek

Wisata Kuliner Lamongan Yang Bikin Semua Orang Ter Gila-Gila– Nama Lamongan berasal darii nama seorang tokoh pada masa silam. Pada zaman dulu, ada seorang pemuda bernama Hadii, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia disebut Ranggahadi. Ranggahadii kemudian bernama Mbah Lamong, yaitu sebutan yang diberikan oleh rakyat daerah ini. Karena Ranggahadi pandaii Ngemong Rakyat, pandai membina daerah dan mahir menyebarkan ajaran agama Islam serta diciintai oleh seluruh rakyatnya, dari asal kata Mbah Lamong inilah kawasan ini lalu disebut Lamongan.

Adapun yang menobatkan Tumenggung Surajaya menjadii Adipati Lamongan yang pertama, tidak lain adalah Kanjeng Sunan Girii IV yang bergelar Sunan Prapen. Wiisuda tersebut bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh para pembesar yang sudah masuk agama Islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelaksanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan periingatan Hari Besar Islam yaitu Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

Berbeda dengan daerah-daerah Kabupaten laiin khususnya di Jawa Timur yang kebanyakan mengambil sumber dari suatu prasasti, atau dari suatu Candi dan dari peniinggalan sejarah yang lain, tetapi hari lahir lamongan mengambil sumber dari buku wasiat. Silsiilah Kanjeng Sunan Giri yang ditulis tangan dalam huruf Jawa Kuno/Lama yang disimpan oleh Juru Kunci Makam Giri di Gresik. Almarhum Bapak Muhammad Baddawi di dalam buku tersebut dituliis, bahwa diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan dilakukan dalam pasamuan agung pada tahun 976 H. Yang dituliis dalam buku wasiat tersebut memang hanya tahunnya saja, sedangkan tanggal, hari dan bulannya tidak dituliskan.

Keripik Sunduk

Apa sih oleh-oleh wisata kuliner du lamongan? Sebagian besar orang mungkiin akan menyebut wisata kuliner lamongan wingko Babat. Kalau Anda melewatii Kota Babat atau Kota Lamongan, memang banyak toko penjual wisata kuliner lamongan wingko di pinggir jalan. Tapi jiika Anda pergi ke Lamongan pesisir (Jalan Raya Daendels) seperti wilayah Brondong dan Paciran, wingko Babat tak begitu populer di sini. Oleh-oleh  wisata kuliner lamongan yang lebiih populer adalah air legen, jumbrek, dan gula merah. Sepajang kiiri kanan jalan raya Paciran, ada banyak warung kecil penjual legen dan dawet siwalan yang juga menjual jumbrek dan gula merah dari nira siwalan.

Kripik Sunduk

Selain itu, sebetulnya ada satu lagi oleh-oleh wisata kuliner lamongan yang jarang diiketahui karena tak banyak penjualnya, yaitu keripik ikan sunduk. wisata kuliner lamongan ini mungkin tiidak akan Anda jumpai di tempat lain karena ikan sunduk adalah hasil laut khas daerah nelayan. wisata kuliner lamongan Ikan ini berukuran sebesar jari tangan dengan panjang sekiitar belasan sentimeter. Sebagiian besar badannya berisi tulang karena itu ikan jenis ini bukan termasuk ikan komersial yang penting seperti ikan tongkol, tenggiri, kakap, dan sejenisnya.

Oleh warga setempat, ikan ini biasa diolah menjadi keriipik berbalut tepung yang biasa disebut dengan “kentaki” karena mirip dengan tepung ayam goreng cepat saji. Sebelum dikeriipik, ikan dibelah, tulangnya dibuang, lalu dipotong kecil-kecil. Rasanya gurih kriuk-kriuk, bisa diimakan begitu saja, bisa juga dimakan sebagai lauk. Paling cocok diniikmati dengan nasi hangat dan sambal terasi. Rasanya bukan maknyus tapi mak kriuk. Keripik ini biasa diijual dalam kemasan plastik dengan bobot sekitar 250 gram, seharga Rp 20.000. Jika Anda melewati daerah Blimbing, Kecamatan Paciran, Anda bisa mendapatkannya di toko buah di depan Apotek Kalipedot, seberang lembaga keuangan BMT Mandiri Sejahtera Cabang Blimbing.

Jumbrek Paciran

Wilayah pesiisir pantai utara (pantura) Kecamatan Paciran memang menjadi “kiblat” wisata kuliner lamongan. Selain tempat-tempat wiisata modern dan wisata religi, daerah yang udaranya terik ini juga memberikan suguhan wisata kuliner lamongan. Salah satu kuliiner khasnya yang unik dan enak adalah jumbrek.

Jumbrek

Terdengar aneh memang ketiika kita pertama kali mendengar kata wisata kuliner lamongan jumbrek, tapi percayalah makanan yang terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan sirup gula siwalan ini sangat enak di lidah. Salah satu pembuat jumbrek yang sudah sangat terkenal di daerah ini adalah Bu Karmiini.

Meski saat ini sudah bukan Bu Karmiini sendiri yang membuatnya, tapi cita rasa jumbrek buatan home industry ini tidak pernah berubah dari masa ke masa. Saat ini jumbrek Bu Karmiini diolah oleh anak dan menantunya yang bernama Mbak Izzah dan Mbak Sulis. Mereka merupakan generasi kedua pembuat jumbrek kondang iini.

Di dalam sebuah dapur sederhana yang cukup luas, Mbak Izzah dan Mbak Sullis membuat jumbreknya dengan cara yang masih sederhana. Proses pembuatan ini diimulai saat kebanyakan orang masih tertidur pulas, yakni pukul 01.00 WIB.  Awalnya tepung beras diiaduk bersama dengan santan, proses pengadukan ini kurang lebiih memakan waktu 25 menit. Pada saat yang sama, sirup gula siwalan diirebus dengan sedikit air di dalam tungku kayu bakar. Sekali lagi proses pembuatan jumbrek ini masiih sangat sederhana. Ini merupakan proses paliing lama dalam tahapan membuat jumbrek, kira-kira memakan waktu satu jam hingga sirup ini mendidih.

Sirup yang diigunakan di sini sepenuhnya sirup gula merah siwalan. Ini  yang membedakan jumbrek Bu Karmiini dengan jumbrek-jumbrek lain. Kebanyakan dari wisata kuliner lamongan jumbrek-jumbrek yang laiin memakai sirup gula aren, kadang dicampur gula pasir. Tentu rasannya jadi berbeda dengan jumbrek yang asli. Tingkat keawetannya juga berbeda. Setelah mendidiih, sirup gula merah siawalan dituangkan pada adonan tepung beras dan santan yang sudah tercampur tadi. Lalu diitambah sediikit tepung tapioka untuk menambah teksur kenyal, kemudian semua adonan di aduk hingga rata. Iniilah adonan jumbrek yang siap dimasukkan ke cetakan. Biasanya saat musiim nangka, Mbak Izzah dan Mbak Sulis menambahkan potongan kecil-kecil nangka ke dalam adonan ini sebagai penambah rasa.

Jumbrek

Adonan ini kemudiian dituang ke dalam daun lontar (siwalan) yang telah dibentuk menjadi kerucut, menyerupai terompet kecil, panjangnya kira-kira 25 cm. Unik memang, mungkiin kita akan sulit menemui yang seperti ini di makanan lain. Saat dimasukkan ke dalam bungkus daun lonntar tadi, adonan jumbrek Bu Karmiini masih cukup encer. Jika “terompet” daun lonntar tadi tidak dibuat dengan benar, maka adonan ini akan bocor. Ini juga yang membedakan jumbrek Bu Karmiini dengan wisata kuliner lamongan jumbrek-jumbrek lain, yang biasanya saat dimasukan ke dalam bungkus daun lontar sudah berupa adonan yang kentall. Ini nantinnya akan berpengaruh pada tekstur dan kekenyalan jumbrek saat sudah jadi.

Saat semua adonan sudah dimasukkan ke daun lontar, jumbrek kemudiian dikukus dalam sebuah kukusaan kuno yang ditaruh di dandang yang juga kuno. Kukusan dan dandang kuno ini sama sepertii yang digunakan untuk menanak nasi zaman dulu. Kurang lebih butuh waktu sekitar 30 menit hingga jumbrek benar-benar matang. Dalam 30 menit tersebut dandang harus dibuka-tutup agar adonannya tiidak  menggelembung. Jumbrek Bu Karmiini rasanya manis dan harum, berbeda dengan jumbrek yang memakai gula aren atau dengan campuran gula pasir yang aroma harumnya kurang terasa. Selaiin itu Jumbrek yang memakai gula aren dan gula pasir kurang tahan lama. Jumbrek gula siiwalan mampu bertahan hingga dua hari, sementara jumbrek gula campuran hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu hari.

Karena adonan jumbrek Bu Karmini dituang saat masiih encer, teksturnya juga kenyal dan lembut, serta tidak nempel di gigi saat dimakan. Ini berbeda dengan jumbrek laiin yang adonannya dituang saat sudah kental. Saat matang, jumbrek ini umumnya lebiih keras dan lengket di gigi saat dimakan.

Jumbrek

Aroma jumbrek juga harum, yang berasal dari aroma daun lontar yang diigunakan sebagai bungkusnya.  Karena jumbrek Bu Karmiini bisa tahan hingga dua hari, makanan yang satu ini cocok untuk oleh-oleh setelah berwisata ke WBL, Mazola, Goa Maharani, makam Sunan Drajat, atau makam Sunan Sendang Duwur. Harganya Rp 2.000 saja per biiji dan biasanya dijual dalam bungkusan berisi sepuluh buah. Jadi satu bungkus hargannya Rp 20.000,-. Ini memang sedikiit lebih mahal daripada jumbrek-jumbrek gula campuran. Tapi, sepertii kata sebuah iklan, “lidah memang tak biisa bohong.”

Jumbrek banyak sekali dii jual di area WBL dan Mazola, juga di warung-warung yang berderet-deret sepanjang jalan pantai utara (pantura). Tapi di sana tidak ada jamiinan jumbrek itu dibuat dari gula siwalan asli dengan kualitas baik. Sekadar saran, apabila Anda ingiin membawa pulang jumbrek asli yang enak dan awet, Anda bisa datang dan membeli langsung di rumah Bu Karmiini kapan saja, karena Mbak Izzah dan Mbak Sulis tiap hari membuat jumbrek.

Letak rumah di Jalan Daendels, Desa Paciran, sekiitar 2,5 km sebelah barat WBL. Di sana ada gang keciil yang disebut dengan Sorasem (dari bahasa Jawa “Ngisor Asem” yang artinya “Di Bawah Pohon Asam” meski kiini pohon asamnya sudah tidak ada). Dari gang sempit tersebut, masuk kira-kira sekiitar 100 m ke utara. Tannya saja warga setempat, mereka pastii tahu yang Anda cari.

Tapi jika Anda tidak mau repot-repot mencari gang keciil tersebut, Anda bisa langsung datang ke satu warung pinggiir jalan, kira-kira 3 km sebelah barat WBL (0,5 km sebelah barat Gang Sorasem). Letaknya tepat dii seberang Apotek Karang Asem. Ini merupakan warung milik Bu Karmiini, jadi jumbrek-jumbrek di sini lansung didatangkan dari rumah Bu Karmini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here